Skip to main content

Tejo dan Slamet



burung pertama yang saya beli berawal dari iseng belaka..kemudian keterusan menjadi hoby. Slamet namanya burung kecil berwarna hijau ini seharga sepuluh ribu rupiah. saya beli di pasar burung pasty tepatnya di Slamet saya beli pada tanggal 09 Mei 2011. sejak saat itu saya ingin sekali menambah koleksi burung saya. akhirnya pada tanggal 14 mei 2011 saya beli seekor burung trucuk yang kemudian saya beri nama Tejo. saya sangat beruntung memiliki Slamet dan Tejo. merekalah yang menemani saya sepanjang hari mulai saya terbangun dengan ocehannya Tejo lalu sore saya yang saya lewatkan dengan memandikan Slamet...semua terasa menyenangkan. dan membuat hidup saya lebih berarti....tunggu episode teman Tejo dan Slamet berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

chapter I

Chapter I : Aku dan ibuku sedang duduk di bawah pohon rambutan depan rumah. Karena kami tidak punya teras untuk sekedar bersantai di siang yang terik. Ibarat tak ada rotan akar pun jadi. Tiba-tiba aku jadi ingin bertanya tentang masa kecilku dulu. Tentang sejarah sedih dan beberapa kenangan membahagiakan yang pernah ku dengar pula dari segelumit obrolan ringan dengan ayahku sebelumnya. Ibuku pun dengan lancar mulai bercerita dengan logat jawanya. Kurang lebih beginilah cerita itu : 1987 di sebuah desa yang lumayan terpencil di pulau jawa saat dimana pertama kali aku membuka mata. Kakakku masih berusia empat tahun kala itu. Di sebuah senja tanpa ada ayah di rumah. Ayah sedang merantau ke Jakarta sejak satu setengah bulan yang lalu. Sepertinya memang sudah saatnya aku di lahirkan. Di dalam rumah berdindingkan anyaman bambu itu hanya ada ibu, kakak dan bibiku. Saat ibu sudah mulai merasakan detik-detik kelahiranku, bibiku mulai panik dan menyuruh kakakku yang masih kecil untuk segera mema...

selingkuh itu setia

Selingkuh itu setia By : Agung Dwiyono Siang ini memang sangat terik. Matahari sepertinya sedang marah oleh tingkah laku manusia. Tapi tak ada satupun keadaan yang biasa menahan laju birtahi dua anak manusia yang sedang dimabuk indahnya surga dunia. disebuah kamar rumah kontrakan berukuran sempit, dosa itu mengalir begitu saja. Seperti air yang tertahan oleh waduk dan kemudian tanggulnya harus dibuka karena harus mengairi sawah yang kering. Keringat mereka bercucuran karena ruangan itu tertutup rapat tanpa fentilasi. Seolah hanya merekalah yang tahu apa yang sedang mereka lakukan. Kini dosa itu sungguh telah terjadi. Sukma menghela nafas kelelahan seiring kenikmatan itu berlalu. Sembari mengenakan celana dalam hitam miliknya sukma mengambil sebatang rokok dan menghidupkanya. Lara masih terbaring lemas tanpa mengenakan apa-apa. “Kanapa tak lekas kau pakai pakaianmu?”. Tanya sukma seiring hembusan pertama asap rokoknya. “Males!” jawab Lara singkat bernada sinis. “Kenapa? Apa k...

aku ingin, kau jangan

aku ingin sekali-sekali ingin tapi bukan ingin ini atau ingin itu aku hanya sedang ingin aku ingin tapi kau jangan jika ingin kita beradu menjadi hal yang tak ingin walaupun sungguh inginku menggebu aku ingin beberapa kata lahir premature dari mulutmu beberapa senyum merekah perlahan dibibirmu aku ingin melihatnya sendiri sendiri saja saat sore tiba karena aku ingin menjadi yang kau inginkan