Skip to main content

TUHAN, aku sedang menangis

Tuhan
aku menangis malam ini
aku terlalu terbelenggu pemikiran
aku selalu melihat ketidakadilan
aku merasakan kepenatan
aku yang sering lapar dari hari ke hari
semua itu membuatku lupa

Tuhan
aku tak kuasa menahan tangis
saat aku sadari
aku sedang berada dalam jurang nalar
logika yang sering aku paksakan
demi mengokohkan anggapanku
demi emosi yang aku elu-elukan

Tuhan, ak sedang bingung
aku menulis beberapa gagasan linglung

Tuhan
aku ingin meninggalkan kehidupan itu
menulis disaat malam-malam arak
dimabuk wanita tersendak
menulis disaat imanku lemah
menulis hal tak ubahnya sampah
tapi tak pernah terlihat benar
aku terbelenggu nalar

Tuhan, maafkan aku
aku sedang menangisi diriku
untuk mengakui kebesaran Mu
untuk sekali lagi mengindahkan Mu
sekali lagi nafas ini menyebut nama Mu
aku ingin kemudian tersenyum
setelah sujudku diatas sajadah cinta Mu


Comments

Popular posts from this blog

chapter I

Chapter I : Aku dan ibuku sedang duduk di bawah pohon rambutan depan rumah. Karena kami tidak punya teras untuk sekedar bersantai di siang yang terik. Ibarat tak ada rotan akar pun jadi. Tiba-tiba aku jadi ingin bertanya tentang masa kecilku dulu. Tentang sejarah sedih dan beberapa kenangan membahagiakan yang pernah ku dengar pula dari segelumit obrolan ringan dengan ayahku sebelumnya. Ibuku pun dengan lancar mulai bercerita dengan logat jawanya. Kurang lebih beginilah cerita itu : 1987 di sebuah desa yang lumayan terpencil di pulau jawa saat dimana pertama kali aku membuka mata. Kakakku masih berusia empat tahun kala itu. Di sebuah senja tanpa ada ayah di rumah. Ayah sedang merantau ke Jakarta sejak satu setengah bulan yang lalu. Sepertinya memang sudah saatnya aku di lahirkan. Di dalam rumah berdindingkan anyaman bambu itu hanya ada ibu, kakak dan bibiku. Saat ibu sudah mulai merasakan detik-detik kelahiranku, bibiku mulai panik dan menyuruh kakakku yang masih kecil untuk segera mema...

enam belas oktober dua ribu sebelas

Sudarman mogok makan

Agung Dwiyono Seketika dalam uraian malam yang hitam. Barangkali lamunan sudarman belum sanggup mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sedih, jengkel, bingung akan menjadi seperti apa setelah kejadian siang tadi. Bahkan secangkir kopi pahit itu pun tak mampu menolong kesedihanya. Masih ia nikmati sebatang rokok yang secara diam-diam ia hisap tanpa sepengetahuan ayahnya. Bumbungan asap mengepul didalam persegi empat kamarnya tanpa ada celah bagi asap-asap itu untuk melarikan diri. Ketika ia sadari ia sudah berwujud sudarman, seorang anak laki-laki berusia belasan tahun yang sedang kebingungan meraba-raba sikap. Guru agamanya disekolah siang tadi berkata ; “janganlah kalian makan dari makanan yang haram atau makanan yang diperoleh dengan cara yang haram”. Salah seorang temannya lantas berceloteh ; “berarti makanan yang diperoleh dari hasil korupsi itu makanan haram donk pak !!!”. entah mengapa, seketika saja semua mata di kelas itu tertuju kepada sudarman dengan sedikit senyum bernada e...