Skip to main content

terhenti di sebuah dermaga




rencana ;
selalu ada rencana di setiap kejadian. begitu juga otakku yang terjejali seribu rencana untuk selalu lari dan berlari mengejar jiwa-jiwa yang berlalu silih berganti. hari ini tentu tak sebahagia dulu atau bahkan tak sesedih kala itu.bukan, bukan rencana bodoh yang sedang aku pikirkan tetapi hasil dari buah karya tuhan berupa keinginan. untuk selalu ingin dan ingin meladeni naluri yang takkan pernah mati. intuisi yang selalu hinggap pada sebuah jiwa-jiwa kesepian.

surga ; tuhan, mungkin aku akan telat merasakan surgamu kelak. tapi tidak untuk sekarang ini. betapa saya merasakan Kau sungguh sedang menyediakannya untukku. surga itu sudah dapat aku rasakan disini. sebelum kemudian aku membayangkan surga yang sesungguhnya. surga yang kau sediakan bagi orang-orang yang setia mengimaniMu sampai akhir dunia. semoga saja adalah aku termasuk didalamnya dengan segala keterbatasanku sebagai manusia.

aku mencari ; sesuatu yang tak lazim dan tersembunyi di balik semak belukar, hiruk pikuk, riuh rentak suara-suara yang biasa-biasa saja. adalah keindahan yang takkan terbeli oleh apapun di dunia ini. sebenarnya itu hanyalah tempat dimana aku dan diriku sendiri sedang asik bercengkarama dengan jiwa yang terus berterbangan seolah mencari satu tujuan yaitu damai.

perjalanan ; obat yang mujarab bagi jiwa yang bermasalah. aku menamainnya perjalanan spiritual mencari sesuap kehangatan dalam diri. memberi selimut tebal di tengah khalayak dingin. nafas dosa yang menggebu-gebu. aku dan kalian yang tak pernah berbaur untuk sapaan penuh makna. memang terkadang sendiri itu lebih dekat kepada merdeka seutuhnya. mungkin aku harus banyak berterimaksih kepada semua yang mendukung perjalanan ini. kekasihku, dan kekasihku lagi, sahabatku, motor sahabatku, dan orang-orang yang memberi nasehat luar biasa sebelum aku memulainya.

kegagalan ; semuanya takkan menjadi selalu atau pasti. setelah sebuah rencana pasti akan ada akhirnya. jika tuhan tak berkehendak maka takan ada lagi kuasa kita. seperti ketika aku berada di dermaga pagi itu.berharap akan ada penyeberangan yang menghantarkanku pergi ke sebuah pulau seberang sana. awan hitam, angin kencang sesekali menghempas tubuhku yang sedang terbaur didalam lamunan panjang. setidaknya aku sudah berusaha.

kembali untuk memulai ; setelah langkah kami terhenti di sebuah dermaga penuh dahaga pengharapan. kembali ku petik buah-buah pelajaran dari sebuah rencana. bahwa rencana akan tetap menjadi rencana dan akan terjawab oleh waktu kapan dan dimana rencana itu kan terjadi. mungkin bukan saat ini. tapi aku yakin jika sang maha Yang sudah berkehendak maka terjadilah. terjadilah maka terjadilah sebuah rencana menjadi momen yang sungguh indah atau sekedar cerita yang takkan pernah terlupa.

(on the road "karimun jawa" failed)
15 januari 2010

Comments

Popular posts from this blog

chapter I

Chapter I : Aku dan ibuku sedang duduk di bawah pohon rambutan depan rumah. Karena kami tidak punya teras untuk sekedar bersantai di siang yang terik. Ibarat tak ada rotan akar pun jadi. Tiba-tiba aku jadi ingin bertanya tentang masa kecilku dulu. Tentang sejarah sedih dan beberapa kenangan membahagiakan yang pernah ku dengar pula dari segelumit obrolan ringan dengan ayahku sebelumnya. Ibuku pun dengan lancar mulai bercerita dengan logat jawanya. Kurang lebih beginilah cerita itu : 1987 di sebuah desa yang lumayan terpencil di pulau jawa saat dimana pertama kali aku membuka mata. Kakakku masih berusia empat tahun kala itu. Di sebuah senja tanpa ada ayah di rumah. Ayah sedang merantau ke Jakarta sejak satu setengah bulan yang lalu. Sepertinya memang sudah saatnya aku di lahirkan. Di dalam rumah berdindingkan anyaman bambu itu hanya ada ibu, kakak dan bibiku. Saat ibu sudah mulai merasakan detik-detik kelahiranku, bibiku mulai panik dan menyuruh kakakku yang masih kecil untuk segera mema...

enam belas oktober dua ribu sebelas

Sudarman mogok makan

Agung Dwiyono Seketika dalam uraian malam yang hitam. Barangkali lamunan sudarman belum sanggup mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sedih, jengkel, bingung akan menjadi seperti apa setelah kejadian siang tadi. Bahkan secangkir kopi pahit itu pun tak mampu menolong kesedihanya. Masih ia nikmati sebatang rokok yang secara diam-diam ia hisap tanpa sepengetahuan ayahnya. Bumbungan asap mengepul didalam persegi empat kamarnya tanpa ada celah bagi asap-asap itu untuk melarikan diri. Ketika ia sadari ia sudah berwujud sudarman, seorang anak laki-laki berusia belasan tahun yang sedang kebingungan meraba-raba sikap. Guru agamanya disekolah siang tadi berkata ; “janganlah kalian makan dari makanan yang haram atau makanan yang diperoleh dengan cara yang haram”. Salah seorang temannya lantas berceloteh ; “berarti makanan yang diperoleh dari hasil korupsi itu makanan haram donk pak !!!”. entah mengapa, seketika saja semua mata di kelas itu tertuju kepada sudarman dengan sedikit senyum bernada e...